GilaKoi

The Indonesian Koi Kichi

Kutu Jarum (Anchor Worm)

Semua pemelihara koi tentu ingin agar koi-koi yang ada di kolam mereka selalu dalam kondisi sehat dan tumbuh dengan baik. Namun demikian, sebaik apapun dalam pemeliharaan koi, suatu ketika bisa saja terserang hama atau penyakit yang dapat merugikan kesehatan koi. Salah satunya yang seringkali menyerang koi adalah yang popular dengan sebutan Kutu Jarum.

Kutu Jarum

Kutu Jarum yang menempel pada ekor koi, mengakibatkan radang. Ditandai dengan warna kemerah-merahan di bagian sekitarnya

Apa itu Kutu Jarum?

Lernaea Cyprinacea

Kutu Jarum atau Kutu Jangkar (Anchor Worm) adalah termasuk jenis parasit yang secara fisik bisa dilihat dengan mata telanjang, karena berukuran cukup besar yaitu  1 – 1,5 cm. Mengapa disebut dengan kutu jarum, sebab memang bentuknya menyerupai jarum yang menempel di tubuh koi.  Juga disebut sebagai Kutu Jangkar, karena hewan ini menancapkan kepalanya kedalam tubuh ikan dengan menggunakan semacam perangkat mirip jangkar. Hewan ini sesungguhnya termasuk di dalam kelompok Crustacea (udang-udangan) dengan genus Lernaea. Terdapat banyak spesies hewan ini, namun yang seringkali ditemukan menyerang koi adalah jenis Lernaea Cyprinacea.

Siklus hidup Kutu Jarum tanpa melalui inang perantara dan  hidup dengan berpasang-pasangan. Yang menjadi parasit adalah kutu betina, sedangkan kutu jantan akan mati setelah melalui masa kawin. Kutu betina kemudian  masuk ke dalam jaringan tubuh koi dengan cara menancapkan kepala dengan menggunakan organ tubuhnya yang mirip jangkar. Dengan cara demikian ini,  maka KutuJarum dapat menghisap darah dan akibatnya dapat merusak sel-sel koi yang ada di bagian sekitarnya.

Tanda-Tanda serangan Kutu Jarum

Seringkali anda melihat ada beberapa koi yang berenang tidak beraturan dan menggesek-gesekkan badannya ke dinding kolam, atau tiba-tiba meloncat keluar kolam.  Mungkin saja itu sebagai pertanda bahwa koi anda sedang terkena serangan kutujarum.  Jika sudah menancap pada tubuh koi, maka mengakibatkan radang di bagian sekitarnya dan akan tampak berwarna kemerah-merahanan.

Kutu jarum bisa saja menyerang ke seluruh bagian tubuh koi, antara lain di bagian ekor, sirip dan badan koi (dibawah sisik). Pada kondisi yang parah, kutujarum juga sampai ke bagian insang dan membuat koi mengalami kesulitan untuk bernafas. Bila sudah terjadi kondisi demikian, maka koi akan terlihat lesu atau berdiam diri. Jika tidak segera dilakukan pengobatan, maka koi tak akan dapat bertahan hidup lebih lama.

Pencegahan lebih baik daripada pengobatan

Sebagai upaya pencegahan, selain anda harus senantiasa menjaga kualitas air kolam, secara berkala, anda dapat menggunakan dipterex yaitu sejenis insektisida organofosfat yang dapat membasmi kutu jarum dan hama parasit lainnya. Penggunaan dipterex untuk mencegah timbulnya parasit di kolam koi di lakukan dalam periode 2 mingguan, tentu dengan dosis yang tepat. Terlebih dahulu bacalah petunjuk penggunaanya,

Jika anda menemukan koi yang terserang kutu jarum, maka yang dapat dilakukan adalah dengan cara mencabut kutu jarum yang menempel pada tubuh koi tersebut dengan mengunakan pinset. Lakukan hal ini dengan hati-hati agar jangan sampai kepala kutu masih tertinggal di dalam tubuh koi, sebab akan menyebabkan infeksi sekunder lainnya.  Setelah dilakukan pencabutan, maka akan meninggalkan luka pada tubuh koi. Oleh karena itu,  jangan lupa memberi  larutan antiseptik seperti merchurochrome pada bagian luka tersebut, untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder.

Pencabutan kutu jarum sebaiknya dihindari jika koi masih kecil atau berukuran dibawah 10 cm. Jangan memaksakan untuk mencabut kutujarum yang ada, sebab koi yang masih kecil belum memilki daya tahan yang cukup terhadap infeksi sekunder lainnya

Koi yang terserang kutu jarum, sebaiknya di pindahkan ke bak karantina dalam rangka pemantauan kondisi koi selama masa pengobatan.

Dimilin

Untuk pengobatan, anda bisa menggunakan Dimilin. Bagi pehobi koi, tentu tak asing lagi dengan Dimilin. Dimilin dipercaya sangat ampuh untuk memberantas berbagai jenis parasit krustasea copepoda seperti Lernaea (Anchor Worm), Ergasilus (belatung insang), Argulus sp. (Kutu ikan). dll

Cara Dimilin bekerja 

Serangga pada dasarnya memiliki exoskeleton (rangka) yang berada di luar, tidak seperti manusia yang memiliki rangka di dalam tubuh.  Secara berkala, exoskeleton akan menua dan terlepas untuk kemudian digantikan dengan yang baru. Komponen utama dari exoskeleton serangga ini adalah zat yang disebut chitin.

Dimilin ​bekerja dengan mengganggu pertumbuhan chitin tersebut. Pada stadium larva, serangga akan  terus makan dan berkembang secara normal sampai mereka melepaskan exoskeleton lama mereka. Namun mereka akan mati karena exoskeleton baru tidak terbentuk dengan baik.

Dosis: 

  • Dosis yang dianjurkan adalah 1gram/1ton air.
  • Masa Pengobatan selama seminggu
  • Perawatan kedua 10 -14 hari tergantung ketahanan parasit.
Telah dibaca 1,610 kali, hari ini 4 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.

GilaKoi © 2015 - Indonesian Koi Kichi