Home / Doni Bastian : Mengapa Saya Menulis Buku GILA KOI

Doni Bastian : Mengapa Saya Menulis Buku GILA KOI

Halo, saya Doni Bastian, penulis buku GILA KOI. Mungkin tak banyak yang mengenal saya, sebab saya memang sudah cukup lama meninggalkan dunia perkoian, namun saya tetap sebagai seorang pecinta koi.

Kalau boleh bercerita sedikit tentang masa lalu, dulu ketika saya pertamakali mengenal ikan koi yaitu sekitar tahun 1996 (lebih 20 tahun lalu), ketika itu ada seorang teman kos memelihara seekor koi di aquarium kecil di dalam kamarnya. Masih jelas diingatan saya, kala itu ikan koi yang dipelihara teman saya itu warnanya putih polos mengilat seperti perak. Belakangan, saya mengetahui itu adalah koi dari jenis Platinum.

Entah kenapa, semenjak saya melihat koi yang ada di dalam aquarium teman saya itu, saya selalu ingin datang ke kamarnya hanya untuk melihat koi berenang lincah meski di dalam sebuah aquarium kecil di bawah cahaya lampu. Apakah waktu itu saya mulai jatuh cinta kepada seekor ikan kecil berwarna putih keperakan itu?

Bisa jadi, sebab setelah itu sayapun juga punya keinginan untuk memelihara koi sendiri, seperti yang teman saya lakukan, tapi dengan ukuran aquarium yang sedikit lebih besar.

MENJADI GILA KOI

Setelah itu dampaknya adalah hampir setiap hari Sabtu dan Minggu saya selalu pergi ke tempat-tempat penjualan ikan hias, hanya untuk sekadar melihat-lihat dan berbelanja koi jika menurut saya ada yang bagus warnanya.

Hampir semua tempat penjualan ikan hias di Jakarta waktu itu, sudah pernah saya jelajahi, seperti misalnya di Jl Sumenep, Hanggar Pancoran, Menteng atas, Jl Barito, Jl Kartini, Tomang, Jatinegara, Kebon jeruk, Cijantung, sampai ke daerah Bogor dan Tangerangpun sudah pernah saya datangi, hanya sekadar untuk mencari koi yang bagus untuk saya miliki.

Karena seringnya membeli koi, lama-lama aqurium saya jadi tampak penuh. Oleh sebab itulah saya kemudian membuat sebuah kolam kecil di depan rumah dan semua koi saya pindahkan ke dalam kolam.

Setiap pulang kerja, sampai di rumah,  saya tak pernah jauh dari sisi kolam sambil memandangi koi-koi saya berenang dibawah lampu di sepanjang malam.

Rasanya hati ini tenang dan tenteram ketika berada di sisi kolam bersama koi-koi kesayangan saya. Kata orang, melihat koi itu sebagai obat stres, ternyata benar-benar saya rasakan.

BERBISNIS KOI

Hingga suatu ketika saya sedang termenung dan terbersit sebuah ide,”Kenapa gak sekalian jualan koi saja, sehingga bisa lebih banyak dapat pengalaman dalam memelihara koi?”.

Nah, sejak saat itulah, saya mulai merencanakan mencari tempat untuk berjualan ikan koi. Karena cukup dekat dengan tempat tinggal saya, kemudian saya putuskan untuk menyewa sebuah kios di daerah Menteng, Jakarta Pusat.

Setelah berjalan beberapa lama, semangat saya makin menggebu-gebu dalam berbisnis koi dan ingin membeli dan memiliki kios sendiri. Keinginan saya ini akhirnya terlaksana juga dan sayapun bisa memiliki sebuah kios yang saya bangun sendiri di Jl Sumenep Menteng Jakarta Pusat pada sekitar pertengahan tahun 1997 dengan nama “MASTERPIECE KOI”.

Kumpulan Foto Penampakan Kios MASTERPIECE KOI pada tahun 1998

Mungkin jika ada diantara anda yang sudah mulai memelihara koi pada sekitar tahun 2000 an, tentu pernah kenal saya atau setidaknya pernah datang ke kios saya di jalan Sumenep tersebut.

Semenjak itu, saya mulai sering berkelana ke berbagai tempat penjual koi import di jakarta antara lain Indo Koi, Dragon Koi, Royal Koi, Jakarta Koi Center dlsb. Karena saya hanya menjual Koi lokal saja, namun saya banyak belajar dari para pakar koi import waktu itu.

Tak cuma di Jakarta, sayapun berbelanja koi sampai ke pelosok Sukabumi dan Blitar. Ketika berada di kolam milik para breeder di Sukabumi maupun Blitar saya seperti berada di dalam surga Koi. Saya bebas  memilih sendiri koi sesuai keinginan saya dan sepuas hati saya.

Ratusan koi diangkat dari kolam, dan saya sendiri yang memilih koi satu per satu yang terbaik untuk saya bawa ke Jakarta untuk mengisi kolam di kios saya.

Bahkan pernah suatu ketika saya membawa ratusan koi di dalam sebuah mobil dari Blitar  menuju ke Jakarta. Ini pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Ternyata membawa ratusan koi dari Blitar ke Jakarta melalui perjalanan darat itu bukanlah hal yang ringan.

Sebab beberapa kali harus berhenti untuk memastikan semua kantong dalam keadaan baik dan tidak bocor. Kemudian pada setengah perjalanan, pada pagi-pagi  buta harus berhenti dan mengganti air untuk puluhan kantong agar koi tetap dalam kondisi baik.

Selain berdagang koi, saya juga menerima jasa pembuatan kolam koi. Mungkin sudah puluhan Kolam berbagai bentuk dan ukuran pernah saya bangun di rumah para pelanggan saya.  Dengan berdagang koi dan membangun kolam, membuat saya jadi banyak kenal dengan para pejabat dan orang-orang terkenal di Jakarta.

Berikut ini sebagian foto kenang-kenangan ketika saya membangun kolam koi :

Foto aktifitas saya membangun beberapa kolam koi pada periode antara tahun 1998-2000

WABAH PENYAKIT KHV

Kalau tidak salah, pada sekitar tahun 2001-2002 terjadi wabah penyakit Koi Herpes Virus yang menyerang seluruh koi yang ada, tak hanya di Indonesia saja, namun juga di negara-negara Asia termasuk di Jepang sendiri. Wabah penyakit KHV ini sungguh merupakan tragedi yang memilukan bagi seluruh pemelihara koi, baik pehobi, maupun breeder di mana-mana.

Mungkin jutaan bahkan miliaran koi di seluruh dunia ini mati masal akibat serangan penyakit yang sangat mematikan ini. Tak terbayangkan berapa miliar seluruh kerugian yang ditanggung oleh para pedagang dan breeder koi waktu itu. Tak sekedar kehilangan uang, tapi yang lebih menyesakkan hati adalah matinya koi-koi kesayangan.

Saya juga termasuk yang menjadi korban keganasan KHV itu. Ratusan koi saya yang merupakan stok barang dagangan di kios juga  mati satu per satu, hingga seluruh isi kolam habis hanya dalam waktu kurang dari satu minggu.

Bisa dibayangkan bagaimana kondisi semua pedagang Koi kala itu. Tentu sangat memilukan bukan?. Hampir seluruh toko dan kios di Jakarta sementara tutup sebab semua kolam dalam keadaan kosong. Kalaupun ada, yang tersisa hanya koi-koi yang berada di tempat karantina.

Pasokan Koi dari Blitar yang sebelumnya lancar, kemudian mulai sulit. Sebab di daerah Blitarpun, juga terjadi wabah KHV yang menyerang semua koi di kolam para petani (breeder)

PENGALAMAN MERAWAT KOI SAKIT 

Dibalik terjadinya wabah penyakit KHV waktu itu ternyata banyak memberi pelajaran dan pengalaman kepada saya khususnya dalam merawat koi sakit. Juga bagaimana memperlakukan koi yang benar agar penyakit tak mudah menular. Berbagai cara perawatan ikan sakit saya lakukan. Berbagai jenis obat dan cara pengobatan saya uji coba, hanya untuk meminimalisir kematian koi.

Meski resiko kematian tinggi sebagai dampak serangan penyakit KHV, namun tak menyurutkan semangat saya untuk tetap mendatangkan ikan koi dari Sukabumi maupun Blitar. Meski dengan perawatan yang ekstra ketat terutama  ketika koi baru datang, namun saya tetap menjalankan bisnis tanpa peduli resikonya.

Mundur dari Dunia Bisnis Koi dan Menjadi Penulis Buku Koi

Oleh karena seringnya saya bekerja ke luar daerah selama beberapa bulan, maka sayapun tak punya banyak waktu lagi untuk mengurusi bisnis koi.

Kemudian saya memutuskan untuk lebih fokus pada pekerjaan saya menangani proyek luar daerah dan saya serahkan pengelolaan usaha koi dan pembuatan kolam kepada kakak saya.

Meskipun tak bisa aktif lagi berbisnis koi, namun saya tetap memantau perkembangan dunia koi melalui internet. Selain itu juga ikut bergabung di berbagai grup komunitas pecinta koi di media sosial.

Hingga pada suatu ketika, saya merasa prihatin saat membaca status dari para pemelihara (pehobi pemula) yang sering mengalami kematian masal pada koi milik mereka. Hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan bagaimana cara memelihara koi yang benar.

Sejak saat itu,  kemudian timbul ide di benak saya untuk menulis sebuah  buku berdasarkan pengalaman yang saya miliki sebelumnya. Saya ingin agar buku saya dapat bermanfaat bagi para pemelihara koi, khususnya pehobi pemula (newbies). Minimal sebagai buku panduan dalam memelihara koi yang baik dan benar.

Oleh karena latar belakang saya bukanlah seorang penulis, namun karena saya bekerja sebagai analis keuangan, perbankan dan manajemen perusahaan, maka saya sedikit banyak sayapun memiliki sedikit kemampuan dalam menulis.

Aktifitas saya menulis tak bisa fokus, sebab saya lakukan ketika saya senggang saja. Sayapun juga mengelola website dan mulai menulis artikel untuk blog yang saya kelola. Hal inilah yang membuat buku GILA KOI membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya.

Selain itu,  saya tak mau hanya sekadar asal jadi dalam menulis buku. Saya harus bisa menghasilkan sebuah buku terlengkap tentang koi yang pernah diterbitkan di Indonesia.

Saya membahas semua persoalan, ibarat dari A sampai Z , yaitu mulai dari sejarah koi, varitas, cara menilai kualitas (apresiasi), pemeliharaan koi, hingga budidaya.

MENYELESAIKAN BUKU GILA KOI

buku koi
Buku Koi terlengkap yang pernah diterbitkan di Indonesia

Setelah 2 tahun sejak saya pertama kali menulis, yaitu pada pertengahan tahun 2018, akhirnya buku GILA KOI dapat diterbitkan.

Seluruh proses pebuatannya, mulai dari desain cover, layout halaman hingga seluruh konten saya kerjakan sesuai ide dan kreatifitas saya sendiri.

Ini benar–benar sebuah karya tulis yang saya buat sendirian, tanpa bantuan orang lain (kecuali proses cetak). Bahkan hingga proses percatakannyapun saya sendiri yang memantaunya hingga proses finishing selesai.

Bersambung..

Baca artikel SEKILAS TENTANG BUKU GILA KOI

Untuk membeli buku GILA KOI, silakan klik disini

Telah dibaca 82 x, hari ini 1 x
KOI POND FESTIVAL 2019Festival Kolam Koi

Ikuti Lomba Kolam Koi "KOI POND FESTIVAL 2019"

Berhadiah Uang Tunai Jutaan Rupiah

Syarat dan Ketentuan
WhatsApp chat