GilaKoi

The Indonesian Koi Kichi




Mengapa Koi Lokal Tak Bisa Besar?

Seringkali terdengar keluhan dari para pemelihara koi, mengapa koi-koi mereka tak bisa besar meski sudah diberi pakan yang cukup dan dipelihara di dalam kolam dengan benar. Namun demikian yang dimaksud dengan koi besar tentu relatip, tergantung dari kebiasaan yang mereka lihat.

Pada umumnya untuk koi lokal, ukuran 50 – 60 cm itu sudah termasuk koi besar. Namun jika dibandingkan dengan koi import, maka koi import relatif lebih cepat pertumbuhannya dan tentu bisa jauh lebih besar dibandingkan koi lokal. Panjang Koi import bahkan bisa mencapai lebih dari 100 cm!

Mengapa Koi Import relatip lebih cepat tumbuh besar dibandingkan Koi Lokal?

Sebelumnya perlu dijelaskan terlebih dahulu, bahwa yang dimaksud Koi Lokal dalam artikel ini adalah koi yang dibudidayakan di dalam negeri dan  biasanya diproduksi oleh para petani koi di daerah Blitar, Sukabumi dan beberapa daerah lainnya. Sedangkan Koi Import adalah Koi yang langsung didatangkan dari Jepang. Lalu apa bedanya, terkait dengan pertumbuhan koi?

Jika  koi masih kecil (ukuran dibawah 10 cm), baik koi import maupun lokal, bentuk badannya mirip dan  kualitas warnanyapun juga tak beda jauh. Namun demikian, bagi yang sudah berpengalaman, akan dengan mudah membedakan mana yang koi lokal, dan mana yang koi import meski tubuhnya sama-sama kecil.

Koi Lokal

Untuk koi ukuran kecil dibawah 10 cm, Koi Import dan Koi Lokal sepintas tampak sama. Namun dalam perkembangannya, pertumbuhan Koi import relatif lebih cepat dibandingkan koi lokal.

 

Hal yang membedakan koi asli import dan koi lokal ketika sudah sama-sama dewasa, terutama adalah pada bagian kepala yaitu bentuk mulut dan badan secara keseluruhan, selain kualitas warnanya.

Meski demikian, tidak semua Koi Lokal lambat dalam pertumbuhannya dan tak bisa tumbuh besar. Demikian juga sebaliknya untuk Koi Import, ada pula yang tetap kuntet (bogel) dan tak bisa tumbuh besar meski telah dirawat dan diberi pakan bagus sekalipun.

Tingkat kecepatan dalam pertumbuhan badan koi terutama sangat dipengaruhi oleh faktor genetika yang diwariskan dari pasangan induknya, selain mutu pakan dan proses pemeliharaannya.

Sebagaimana diketahui, budidaya koi  di Jepang telah dikembangkan sejak 200 tahun lalu dan kini telah menjadi industri pertanian besar dan modern. Koi asal negeri Sakura juga telah dipasarkan  hingga ke seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika Koi Breeder di Jepang telah mampu memproduksi koi dengan kualitas yang lebih baik daripada  petani koi lokal di dalam negeri kita.

Karena di Jepang mengalami 4 musim, yaitu musim panas, musim gugur, musim dingin dan musim semi, maka para pembudidaya koi disana harus memanfaatkan musim dengan sebaik-baiknya, sebab mereka tak bisa memijahkan koi di sembarang waktu. Tidak seperti kondisi iklim di Indonesia, yang mana para pembudidaya koi lokal kita bisa memijahkan koi kapanpun sesuai yang mereka inginkan.

Para petani koi di Jepang hanya bisa memijahkan koi pada waktu-waktu tertentu saja, yaitu ketika menjelang musim panas atau mulai sekitar bulan April sampai dengan Juni setiap tahunnya. Setelah itu, jika musim dingin tiba, maka  air sungai dan danau membeku dan semua koi dipindahkan kedalam kolam indoor dengan menggunakan sistem penmanas air (water heater)t, untuk menjaga agar koi mereka tetap bertahan hidup.

Koi Lokal

Ketika tiba musim dingin (winter) di Jepang, koi dipindahkan ke dalam ruangan khusus

Dalam rangka pemijahan koi,  mereka benar-benar memilih Induk Koi (Oyagoi) terbaik dengan sangat selektif. Induk Koi yang digunakan hanyalah koi yang sudah cukup dewasa dengan ukuran panjang badan setidaknya berukuran 70 cm dan berumur 3 tahun atau lebih. Hal ini sangat penting untuk mendapatkan anakan koi yang baik dan dapat tumbuh dengan cepat dan menjadi besar. Berbeda kondisinya dengan para petani koi lokal, yang mana induk koi yang digunakan dalam pemijahan rata-rata panjangnya tak lebih dari 60 cm.

Secara genetika, induk betina akan menurunkan sifat-sfat fisiologis kepada anak-anaknya. Jika induknya besar, maka anak-anaknya juga sangat berpotensi nantinya menjadi koi yang besar pula. Demikian juga sebaliknya, jika induk koi lokal kita rata-rata panjang badannya maksimal hanya 60 cm, maka tentu kita juga sangat sulit untuk mendapatkan keturunan koi jumbo dengan panjang diatas 80 cm.

Koi Lokal

Contoh koi induk (Oyagoi) yang digunakan oleh pembudidaya koi di Dainichi Koi Farm Jepang untuk menghasilkan keturunan berkualitas yang sangat berpotensi menjadi koi cepat besar (jumbo).

 

Jika seekor koi bukan merupakan keturunan dari induk yang besar (jumbo) maka meskipun dirawat dengan menggunakan pakan terbaikpun, tetap saja badannya tak bisa besar. Oleh karena itu, jika dilakukan perbandingan terkait pertumbuhan badan antara koi lokal dan koi import yang dipelihara pada kolam yang sama, dimulai dengan ukuran dan kualitas pakan yang sama, maka sudah barang tentu, koi import relatip lebih cepat pertumbuhannya.

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana kita bisa mengetahui mana koi yang berasal dari keturunan Koi Jumbo dan mana yang tidak? Tentu saja yang dapat mengetahui secara pasti hanya Tuhan dan petani koi yang membudidayakannya. Meski demikian, biasanya Koi yang berpotensi jumbo dapat diamati pada bagian pangkal ekornya yang tampak tebal dengan struktur tulang tertentu.

Terlepas dari manapun keturunan induknya, yang terpenting dalam memelihara koi adalah anda dapat memperoleh koi yang sehat dengan warna-warna indah sebagai penghias kolam.

Jika anda ingin memiliki koi yang bisa tumbuh besar (koi Jumbo), maka anda dapat membeli koi import, namun tentu dengan harga yang jauh lebih mahal. Namun demikian yang pasti adalah bahwa kondisi kolam anda harus benar-benar baik agar dapat memaksimalkan pertumbuhan koi sesuai yang diharapkan.

Demikianlah semoga bermanfaat.

#donibastian

Telah dibaca 676 kali, hari ini 4 kali




Updated: 19/04/2018 — 10:20

Leave a Reply

Your email address will not be published.

GilaKoi © 2015 - Indonesian Koi Kichi